Lebih dari 100 Tahun, Kupatan Pekauman Gresik Terus Dirawat Lintas Generasi
Gresik, 29 Maret 2026 — Usai azan Isya berkumandang, gemericik hujan yang turun perlahan tak menyurutkan langkah warga Kampung Bekaka’an, Kelurahan Pekauman, Kabupaten Gresik. Malam itu, tepat pada malam 8 Syawal, masyarakat tetap khidmat melaksanakan Tradisi Kupatan. Sebuah perayaan yang telah mengakar kuat sebagai simbol kebersamaan pasca Idulfitri.
Berbeda dari tradisi kupatan di daerah lain, warga Pekauman memiliki cara unik dalam merayakannya. Mereka tidak hanya berkumpul bersama keluarga, tetapi juga membagikan ketupat ke rumah-rumah warga hingga di setiap perempatan jalan. Tradisi ini dikenal dengan istilah Kupat Liwat, yang menjadi daya tarik tersendiri sekaligus mempererat interaksi sosial antarwarga.
Tradisi yang telah berlangsung lebih dari satu abad ini tidak sekadar seremoni tahunan. Kupatan di Pekauman berakar dari ajaran seorang ulama setempat, Kiai Baka, yang menganjurkan para santrinya untuk menjalankan puasa selama enam hari di bulan Syawal setelah Idulfitri. Hari ketujuh, yang bertepatan dengan malam 8 Syawal, kemudian dirayakan sebagai bentuk rasa syukur.
Lebih dari itu, tradisi ini juga sarat makna filosofis. Kupatan dimaknai sebagai ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan), yang mencerminkan nilai kesucian, kerukunan, serta kekompakan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sejarawan setempat, Ahmad Zubaid, menjelaskan bahwa sebelum pelaksanaan kupatan, warga terlebih dahulu melakukan ziarah ke makam Kiai Baka sebagai bentuk penghormatan dan permohonan kelancaran.
"Sebelum melaksanakan tradisi kupatan, kami awali dengan ziarah atau bertawasul ke makam Kiai Baka. Istilahnya meminta izin agar pelaksanaan berjalan lancar,” ujarnya.
Ia berharap tradisi ini dapat terus dilestarikan lintas generasi.
“Kami mendorong generasi muda agar tetap menjaga dan melestarikan tradisi kupatan Pekauman. Jangan sampai tradisi ini terhenti dan terancam punah,” tambahnya.
Sementara itu, Camat Gresik, Jalesvie Triatmoko, menyampaikan bahwa tradisi Kupatan Pekauman tengah diproyeksikan untuk diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda tingkat nasional.
“Dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Gresik melalui Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, kami berharap tradisi ini dapat diakui secara nasional sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya,” ungkapnya.
Usai menyantap kupat bersama, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan tradisi open house. Warga membuka pintu rumah lebar-lebar bagi siapa saja yang datang, baik tetangga, kerabat, maupun pengunjung dari luar daerah. Panitia bersama tamu undangan juga turut berkeliling untuk bersilaturahmi, menikmati hidangan, sekaligus meramaikan tradisi kupat liwat.
Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Dinas Parekrafbudpora Kabupaten Gresik, Pokdarwis, Camat Gresik, pihak Petrokimia Gresik, serta sejumlah undangan lainnya. (Rad)

0 Comments