Dinkes Gresik dan PT Freeport Indonesia Inisiasi Desa Siaga TBC di Manyarejo, Dorong Penghapusan Stigma

Gresik, 8 April 2026 — Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik bersama PT Freeport Indonesia melaksanakan Program Desa Sehati sebagai bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di Balai Desa Manyarejo, Selasa (8/4). Kegiatan ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2026 dengan mengusung tema “Bersama Wujudkan Lingkungan Bebas Stigma Tuberkulosis.”


Perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, dr. Puspita, menyampaikan bahwa tuberkulosis (TBC) bukan hanya persoalan medis, tetapi juga berkaitan erat dengan faktor sosial, terutama stigma yang masih melekat di masyarakat.


“Penyakit TBC bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga persoalan sosial. Stigma yang masih ada seringkali membuat penderita enggan memeriksakan diri atau berobat karena takut dikucilkan,” ujarnya.


Ia menegaskan bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi bersama dalam penanggulangan TBC.


“Kita perlu menemukan kasus secara aktif melalui deteksi dini, memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas, serta memperkuat upaya pencegahan. Semua ini membutuhkan kolaborasi berbagai pihak,” jelasnya.


Sebagai langkah konkret, pemerintah mendorong pembentukan Desa Siaga TBC, yakni desa yang aktif berpartisipasi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan TBC.


“Kami mengucapkan terima kasih kepada PT Freeport Indonesia atas dukungannya dalam menginisiasi pembentukan Desa Siaga TBC ini,” lanjut dr. Puspita.


Ia juga menegaskan bahwa upaya penanggulangan TBC tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah. Butuh kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak.


“Kami dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik terus berkomitmen memperkuat penanggulangan TBC, namun upaya ini tidak dapat berjalan tanpa dukungan stakeholder dan partisipasi aktif masyarakat,” tegasnya.


Berdasarkan data hingga 31 Maret 2026, tercatat sebanyak 542 pasien TBC di Kabupaten Gresik, dengan 475 pasien telah memulai pengobatan.


Sementara itu, Kepala Desa Manyarejo, Siswanto, mengungkapkan bahwa di wilayahnya terdapat empat pasien TBC, dengan satu orang telah dinyatakan sembuh.


“Di Desa Manyarejo terdapat empat pasien TBC, dan satu orang sudah sembuh. Ini menjadi semangat bagi kami untuk terus melakukan pendampingan,” ujarnya.


Lebih lanjut, ia juga mengajak masyarakat untuk menghapus stigma terhadap penderita TBC.


“Penderita TBC tidak perlu dijauhi, tetapi harus kita rangkul. Dukungan mental dan emosional sangat penting dalam proses penyembuhan. Ini adalah peran kita bersama,” tambahnya.


Program ini turut mendukung percepatan eliminasi TBC di Kabupaten Gresik pada tahun 2028 melalui pembentukan tim di tingkat desa.


Perwakilan PT Freeport Indonesia, Novia Nabila selaku PIC Program Kesehatan Masyarakat, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program.


Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi sosialisasi dan talkshow yang dipandu oleh moderator Oneix Lestari. Talkshow mengangkat tema peran desa dalam eliminasi tuberkulosis, membangun masyarakat tanpa stigma, serta pembelajaran dan motivasi dari mantan pasien TBC.


Dalam sesi tersebut, dr. Hilman menjelaskan bahwa desa memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam deteksi dini dan pendampingan pasien TBC.


Kepala Desa Manyarejo, Siswanto, juga menegaskan komitmen desa dalam mendukung program Desa Siaga TBC melalui keterlibatan aktif perangkat desa dan masyarakat.


Dalam kesempatan yang sama, Nainul Hidayah sebagai penyintas TBC membagikan pengalaman dan semangat kepada masyarakat.


“TBC bisa disembuhkan. Jangan takut untuk berobat dan jangan merasa sendirian. Dukungan dari lingkungan sangat membantu proses penyembuhan,” ungkapnya.


Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan, deteksi dini, serta pengobatan TBC semakin meningkat, sekaligus menghapus stigma terhadap para penyintas demi mewujudkan lingkungan yang sehat dan inklusif. (ani)